Transfortasi Penyebrangan yang Menantang Maut

Cipatujah, Transfortasi Era 90'n kembali terulang, foto riki

Cipatujah (15/11/2018), Paska Banjir yang melanda Desa Cipatujah Kecamatan Cipatujah dan sekitarnya seminggu yang lalu lebih tepatnya tanggal 6 November 2018 yang menyebabkan Ambruknya Jembatan Penghubung antara Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya, Jembatan Sepanjang 108 meter tersebut adalah satu-satunya Jalur Nasional di lintang selatan.

Cipatujah, Proses Penyebrangan dengan Alat Transfortasi Rakit/Getek, foto riki

Dengan Ambruknya Jembatan tersebut para pengguna jalan tidak bisa melintasi Sungai perbatasan antara Desa Cipatujah dengan Desa Ciandum Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, melihat kondisi tersebut salah seorang warga yang bernama Bapak Ucu Herianto (Enun) dengan dibantu Warga Lainnya berinisiatif Membuat Alat Transfortasi Penyebrangan yang terbuat dari Bambu sepangjang kurang lebih 8 meter yang disusun rapi sebanyak kurang lebih 50 batang bambu menggunakan tali dan Paku dengan dibantu Alat Drum sebanyak 15 buah untuk menambah daya Apung diatas Air, warga Cipatujah menyebutnya dengan sebutan “Rakit/Getek”, Alat ini Pernah digunakan pada Jaman dahulu sampai Tahun 90’n oleh Tokoh masyarakat yang bernama Alm. Abah Adma diteruskan dengan sodaranya Alm. Abah Mail seiring berjalannya waktu Alat tersebut di ambil alih oleh PEMDA sehingga pendapatannya masuk ke Aset PEMDA.

Cipatujah, Warga rela mengantri demi bisa melintasi Sungai Cipatujah-Ciandum, foto riki

Alat Penyebrangan ini (Rakit/Getek) di Operatori oleh Bapak Ucu Herianto sendiri, dapat menampung Kendaraan Roda 2 Maksimal 6 Unit dan Menampung Orang lebih dari 10 Orang dengan tingkat keamanan yang sangat rendah karena tidak adanya Tali pengaman. Rakit/Getek tersebut akan terus di Operasikan sebelum adanya Jembatan yang saat ini sedang diperbaiki Oleh Pihak Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat dan PT. TAGAHANA.

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan